Showing posts with label Tidur. Show all posts
Showing posts with label Tidur. Show all posts

Hindari 4 Kebiasaan Ini Agar Tidur Nyenyak

Ilustrasi Tidur
Kekurangan tidur berdampak pada banyak hal, mulai dari gangguan konsentrasi hingga meningkatkan risiko serangan jantung. Karena itu memiliki tidur yang berkualitas sangatlah penting.

Meski begitu ternyata ada banyak kebiasaan kecil yang bisa merusak kualitas tidur di malam hari. Bila Anda sering mengalami kesulitan memejamkan mata, hindari 6 hal berikut ini.

1. Makan berat sebelum tidur
Kebiasaan mengonsumsi makanan berat atau camilan yang mengenyangkan bisa membuat mata sulit terpejam. Rasa perut yang tidak nyaman setelah makan merupakan salah satu gejala GERD (gastro esophageal reflux disorder), dimana aliran asam lambung kembali ke esofagus sehingga terjadi refluk dan jantung terasa terbakar.

Bila Anda merasa lapar di malam hari meski sudah makan malam, cobalah camilan yang sarat protein dan karbohidrat, seperti sereal, keju atau oatmeal. "Protein akan meningkatkan level triptophan sementara karbohidrat kompleks membantu triptophan membuat tidur lebih nyenyak," kata Dr.Gerard Lombardo, pakar tidur.

2. Menonton televisi
Banyak orang yang memilih menonton televisi untuk memancing rasa kantuk. Padahal kebiasaan ini bisa mengganggu tidur. Tayangan bertema kriminal atau drama bisa memenuhi pikiran sehingga otak kembali aktif. Membaca buku lebih disarankan untuk membuat pikiran lebih rileks. Selain itu kegiatan meditasi atau berdoa sebelum tidur juga akan membantu merilekskan sistem saraf.

3. Bekerja lembur
Membawa pekerjaan ke rumah sudah jamak dilakukan para pekerja. Namun, kegiatan menyiapkan presentasi atau laporan di malam hari bisa meningkatkan level stres dan membuat tubuh lebih waspada. Akibatnya rasa kantuk pun urun datang.

"Jika pekerjaan sulit ditinggalkan, kerjakan di ruangan lain. Dan ketika Anda mulai merasa mengantuk, tinggalkan sejenak untuk besok. Atau berhentilah bekerja satu jam sebelum tidur untuk menenangkan pikiran," kata Lombardo.

4. Berbeda pendapat
Kesibukan aktivitas menyebabkan banyak pasangan baru bisa berbicara pada malam hari sebelum tidur. Akan tetapi Lombardo menyebutkan ada beberapa topik yang sebaiknya dihindari, terutama topik yang memicu pertengkaran.

Perbedaan pendapat dengan pasangan bisa menyebabkan sistem saraf meresponnya sebagai bahaya, kemarahan, atau kejutan, sehingga level energi meningkat. Akibatnya tentu saja akan sulit tidur setelahnya.

View the original article here

Susah Tidur Menjadi Risiko Serangan Jantung

Ilustrasi Tidur
Ini adalah peringatan bagi mereka yang kerap sulit tidur atau sering terbangun dari tidur di malam hari. Studi terbaru para ahli di Norwegia menyatakan, mereka yang mengalami kesulitan tidur nyenyak pada malam hari berisiko lebih besar mengalami serangan jantung.

Sejauh ini, hubungan antara insomnia dan meningkatnya risiko serangan jantung memang belum jelas. Tetapi yang pasti, gangguan tidur berdampak pada tekanan darah dan inflamasi, di mana keduanya merupakan faktor risiko serangan jantung.

"Ketika gejala insomnia menjadi hal biasa dan mudah untuk diobati, penting artinya bagi masyarakat mewaspadai hubungan insomnia dan serangan jantung, dan berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gangguan tidur," kata Dr. Lars Erik Laugsand, internis dari Norwegian University of Science and Technology di Trondheim.

Laugsand menegaskan, temuan yang dipublikasi dalam jurnal Circulation edisi 24 Oktober ini hanyalah bukti adanya keterkaitan dan bukan hubungan sebab-akibat. Riset lanjutan perlu dilakukan untuk mengungkap lebih jauh tentang mekanisme dibalik hubungan ini.

Dalam penelitiannya, Laugsand menganalisa data kesehatan tidur sekitar 53.000 pria dan wanita peserta survei antara 1995-97. Terungkap pula bahwa 2.400 responden mengalami serangan jantung selang 11 tahun kemudian.

Peneliti menemukan, mereka yang hampir setiap hari kesulitan tidur mengalami peningkatan risiko 45 persen serangan jantung, dibanding responden yang tak bermasalah untuk tidur lelap. Selain itu, mereka yang tidurnya tidak nyenyak atau sering terjaga di malam hari juga berisiko 30 persen lebih tinggi ketimbang yang tidurnya nyenyak. Sedangkan mereka yang merasa badannya tidak segar/bugar setelah tidur malam mengalami peningkatan risiko serangan jantung sebesar 27 persen ketimbang yang merasa bugar.

Dalam riset ini, peneliti memperhitungkan beragam faktor seperti usia, jenis kelamin, seks, status perkawinan,tingkat pendidikan, tensi, kadar kolesterol, diabetes, berat badan, olahraga, pola kerja shift. Gejala depresi dan kecemasan sebagai pemicu insomnia juga turut diperhitungkan.

Dr. Gregg Fonarow, professor kardiologi dari University of California, Los Angeles sekaligus jurubicara American Heart Association (AHA), mengatakan sejumlah studi sebelumnya telah mengungkap bahwa gangguan tidur memang berkaitan dengan risiko serangan jantung yang lebih tinggi.

"Studi-studi lama juga mengungkap hasil beragam, akan tetapi belum dapat mengungkap mengapa tidur sehat membuat jantung lebih sehat," ujar Fonarow. Sedangkan Dr. Edward A. Fisher, profesor pengobatan kardiovaskuler pada NYU Langone Medical Center di New York City menyatakan, salah satu penjelasan yang mungkin dari temuan ini adalah berubahnya proses metabolisme tubuh. Dalam tubuh, metabolisme diatur oleh ritme sirkadian yang tentu sangat bervariasi di antara siklus tidur setiap individu.

"Telah diketahui bahwa binatang yang ritme sirkadiannya diganggu bakal mengalami perubahan metabolisme. Jika ini terjadi pada manusia, maka akan meningkatkan risiko sakit jantung," papar Fisher.


View the original article here

Kualitas Tidur Menurun Seiring Usia

Kompas.com - Nyenyak tidaknya tidur yang kita alami ternyata berubah seiring dengan usia. Masa bayi sampai remaja merupakan masa ketika bagian tidur dalam dan nyenyak paling mendominasi.

Menurut pakar masalah tidur Donna Arand, anak-anak menghabiskan 50 persen dari waktu tidur mereka di malam hari pada fase tidur dalam atau tidur yang berfungsi untuk perbaikan sel-sel tubuh. "Anak dan remaja membutuhkan tidur dalam sebagai bahan bakar untuk pertumbuhan mereka," katanya.

Di usia 20 tahun fase tidur dalam manusia berkurang separuhnya. Bahkan sebagian orang yang berusia 40 tahun kehilangan kemampuan mereka untuk mengalami tidur restoratif.

"Pada orang lanjut usia tidur restoratif mereka semakin sedikit sehingga mudah terbangun. Sangat sulit bagi mereka untuk tidur selama 8 jam tanpa terbangun," kata juru bicara American Academy of Sleep Medicine ini.

Perubahan paling nyata dari tidur orang lanjut usia adalah tidur mereka menjadi ringan dan tidak berkualitas. Sebagian besar lansia mengeluhkan perubahan kualitas tidur itu membuat mereka terbangun lebih pagi tapi merasa mengantuk di siang hari.

Selain faktor penuaan, kualitas tidur seseorang juga dipengaruhi oleh kesehatan fisik. Orang yang menderita penyakit dan mengonsumsi obat tertentu bisa mengalami insomnia.


View the original article here