Gitar Digital Tanpa Senar

Misa Digital Kitara adalah gitar tanpa senar yang memberi anda tampilan multitouch sensasional daripada menekan tombol untuk memodifikasi output aural dari input digital. Hal ini juga sebuah synthesizer onboard. Anda juga dapat menghubungkannya dengan peralatan audio anda untuk explorasi sound. Harga dari gitar digital tanpa senar ini adalah US $ 849.

Berikut gambar dari Gitar Digital Tanpa Senar :



Berikut Video dari Gitar Tanpa Senar :

Indonesia Pengguna Facebook Tertinggi di Asia

Facebook
Indonesia merupakan pengguna jejaring sosial Facebook tertinggi di Asia. Hingga akhir tahun lalu terdapat 38,6 juta orang Indonesia yang menggunakan Facebook.

"Hingga Desember 2010 ada 38,6 juta orang Indonesia pengguna Facebook," kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Freddy Tulung, di Jakarta, Rabu, 9 November 2011.

Freddy menambahkan jumlah pengguna Facebook di Indonesia juga terbilang fantastis karena tidak berbeda jauh dengan jumlah pengguna Internet. "Hingga periode yang sama jumlah pengguna Internet di Indonesia sebanyak 39,7 juta orang," ujar dia.

Banyaknya pengguna Facebook ternyata mengundang kekhawatiran. Bagi para penggunanya, Facebook memiliki berbagai risiko, seperti pemanfaatan situs pertemanan itu sebagai alat untuk kegiatan terorisme dan perdagangan manusia. Selain itu penyebaran konten pornografi sering juga memanfaatkan Facebook.

Namun, lanjut Freddy, risiko-risiko itu dapat dicegah melalui beberapa pendekatan, yaitu kontrol dari keluarga dan lingkungan. "Kementerian Komunikasi dan Informasi juga bisa membuat software untuk mencegahnya," ujarnya. Pendekatan terakhir adalah melalui penegakan hukum atas risiko yang mungkin terjadi.

Meski berbagai risiko terus menghantui pengguna Facebook di Indonesia, hingga kini Kemenkominfo memang tidak memiliki rencana untuk menutup akses situs Facebook secara total di Indonesia.

"Konten di dalam Facebook mungkin bisa kami tutup. Tapi menutup Facebook secara keseluruhan itu tidak mungkin," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Basuki Yusuf Iskandar.

PRIHANDOKO

View the original article here

ABG Cute


1811764_wwerss_(1).jpg 1811775_wwerss_(2).jpg 1811777_wwerss_(4).jpg 1811782_wwerss_(5).jpg 1811784_wws_(1).jpg 1811785_wws_(2).jpg 1811787_wws_(3).jpg 1811796_wws_(4).jpg 1811797_wws_(5).jpg 1811798_wwws_(1).jpg 1811799_wwws_(2).jpg

Sherly


1811701_sherly_(1).jpg 1811704_sherly_(2).jpg 1811707_sherly_(3).jpg 1811710_sherly_(4).jpg 1811713_sherly_(5).jpg 1811715_sherly_(6).jpg 1811717_sherly_(7).jpg 1811720_sherly_(8).jpg 1811722_sherly_(9).jpg 1811724_sherly_(10).jpg 1811727_sherly_(11).jpg 1811729_sherly_(12).jpg 1811733_sherly_(13).jpg 1811741_sherly_(14).jpg 1811747_sherly_(16).jpg

LIPI Buat Marka Jalan Berbahan Karet

Ilustrasi Jalan
Untuk memberi nilai tambah bagi produksi karet lokal, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan karet alam sebagai komponen penyusun marka jalan. Bahan baru ini lebih awet dan ramah lingkungan ketimbang material yang saat ini digunakan.

Indonesia adalah negara penghasil karet alam terbesar kedua di dunia. Namun sebagian besar ekspor material ini diimpor ke luar negeri sebagai bahan baku. Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI, Athanasia Amanda Septevani, mengembangkan inovasi itu dengan memanfaatkan bahan baku karet alam dari petani.

Di laboratorium, ia memecahkan ikatan rangkap yang ada pada karet dan mencangkokkannya dengan molekul lain untuk mencegah pembentukan ikatan rangkap. Material ini dicampur dengan zat lain, termasuk pewarna, seperti putih, merah, dan kuning, sesuai dengan keperluan.

"Marka jalan buatan kami mengandung 20 persen karet alam," ujar Athanasia kepada Tempo di Gedung Bidakara, Jakarta, Senin lalu.

Pada saat ini marka jalan umumnya terbuat dari resin kimia yang disebut methyl methacrylat (MMA). Bahan ini merupakan olahan dari minyak bumi yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Penggunaan MMA sendiri mulai dikurangi di dunia internasional.

Dibandingkan dengan MMA, marka jalan berbahan karet bersifat ramah lingkungan. Marka dari karet ini juga dapat mencengkeram aspal lebih kuat lantaran sifat alamiah karet. Pengujian tekanan menunjukkan material asli Indonesia ini lebih tahan terhadap keretakan. "Marka jalan berbahan kimia sangat mudah patah atau retak," ucapnya.

Selama dua tahun penelitian, Athanasia mampu menghasilkan material berkualitas menengah, jauh lebih baik daripada sebagian besar marka jalan di Indonesia, yang masih berkualitas rendah.

Dari segi harga, marka jalan buatan LIPI sangat kompetitif. Jika dilepas ke pasar, material ini dibanderol seharga Rp 28 ribu per kilogram. Harga ini jauh lebih hemat dibanding marka jalan kimia yang umumnya berharga setidaknya Rp 30 ribu per kilogram.

Selain kebutuhan pasar yang amat menjanjikan, pasokan bahan baku tak akan kekurangan. Produksi tahunan karet alam Indonesia mencapai 2,7 juta ton. Dari jumlah ini, 15 persen diolah menjadi produk bernilai tinggi, seperti ban, lateks, dan produk alas kaki. Sedangkan 85 persennya diekspor ke luar negeri sebagai bahan mentah yang belum diolah. Karet tak bernilai tambah inilah yang dibidik LIPI sebagai bahan baku pembuatan marka jalan.

Tahun depan, LIPI masih berupaya meningkatkan kualitas material ini agar bisa menyamai marka jalan berbahan MMA berkualitas nomor wahid. Beberapa perusahaan sudah berkomitmen memproduksi material yang sedang dalam proses pengurusan hak paten.

Jika produksi massal sudah dilakukan, LIPI berharap produk ini segera dipakai perusahaan pembangunan jalan raya untuk membuat separator jalan raya, area parkir, zebra cross, dan penunjuk arah.

View the original article here

Ratu Felisha Dugem


1811655_ratu_felisha_(1).jpg 1811660_ratu_felisha_(2).jpg 1811664_ratu_felisha_(3).jpg 1811668_ratu_felisha_(4).jpg

Qew namanya



1811628_qew_(2).jpg 1811631_qew_(3).jpg 1811635_qew_(4).jpg 1811637_qew_(5).jpg